Sejarah serta Amalan-amalan di bulan Dzulhijjah
Sejarah serta
Amalan-amalan di bulan Dzulhijjah
Artikel by. M. Wasil
Dzulhijjah
disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, tanggal satu bulan dzulhijjah tahun ini jatuh pada
tanggal 02 agustus 2019. Di dalamnya terdapat kewajiban haji
bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan
memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa.
Ibnu
Abbas pernah menerangkan bahwa dalam rentangan sejarahnya hari-hari di sepuluh
pertama bulan Dzulhijjah ini adalah hari penuh makna karena terjadi berbagai
peristiwa besar yang berhubungan pada perubahan kehidupan manusia selanjutnya.
Hari
pertama Dzulhijjah adalah hari pertama dimaafkannya Nabi Adam oleh Allah swt,
setelah beberapa lama beliau meminta pengampuanan atas kesalahannya memakan
buah huldi di surga. Oleh karena itu Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di hari
pertama bulan Dzulhijjah maka Allah akan memaafkan dosa-dosanya sebagaimana
yang terjadi kepada Nabi Adam”.
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِى اْلحِجَّةِ سُنَّةً للهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri dzil hijjati sunnatan lillahi
ta’ala
Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah
karena Allah Ta’ala."
Hari kedua Dzulhijjah adalah hari diselamatkannya Nabi
Yunus as oleh ikan Nun setelah beberapa hari berada di dalam perutnya sembari
terus bertasbih dan beribadah kepada Allah swt. Pada hari inilah
Nabi Yunus dipersilahkan keluar dari perut ikan Nun. Oleh karena itulah
Rasulullah saw pernah bersabda: “Barang siapa beribadah di hari kedua
bulan Dzulhijjah baginya pahala yang menyerupai ibadah satu tahun tanpa ada
maksiat”.
Hari
ketiga Dzulhijjahh adalah hari dikabulkannya do’a nabi Zakariya as. untuk
kemudian dianugerahi seorang anak.namanya Yahya. Adapun hari keempat Dzulhijjah
adalah hari kelahiran Nabi Isa as. Hari kelima Dzulhijjah hari kelahiran Musa
as. Hari keenam Dzulhijjah adalah hari-hari kemenangan para Nabi dalam
memperjuangkan ajaran tauhid. Hari ketujuh bulan Dzulhijjah adalah hari
ditutupnya pintu neraka Jahannam. Oleh karena itu Rasulullah saw pernah
bersabda
Barang
siapa berpuasa di hari ke tujuh bulan Dzulhijjah akan ditutup tiga puluh
kesulitan dalam hidupnya dan dibuka tiga puluh pitu kemudahan baginya.
Adapun
hari kedelapan yang disebut dengan hari tarwiyah diantara fadhilah yang masyhur
bagi mereka yang berpuasa pada hari tarwiyah maka baginya pahala yang sangat
besar, yang karena sangat besarnya tiada yang tahu pasti ukurannya kecuali
allah swt.
نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةَ سُنَّةً للهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma
al tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala
Artinya:
"Saya niat berpuasa sunnah tarwiyah karena Allah ta’ala."
Begitu
pula hari kesembilan yang disebut dengan hari tasu’a, barang siapa yang
berpuasa pada hari kesembilan maka pahala baginya seperti berpuasa selama
enampuluh tahun. Adapun pada hari kesepuluh yang disebut dengan yaumun nahr
hari penyembelihan korban, maka diharamkan kepada siapapun berpuasa waktu itu.
Amal-Amal
Saleh yang Dianjurkan
Di
antara amal saleh yang disyariatkan pada 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai
berikut.
Pertama,
melaksanakan ibadah haji dan umrah. "Dan haji mabrur, tidak ada balasan
untuknya selain surga." (HR Muslim).
Kedua,
memperbanyak shalat sunah. "Hendaknya kamu memperbanyak sujud lillah,
karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja, kecuali Allah akan
mengangkat derajatmu karenanya dan menggugurkan dosamu karenanya." (HR
Muslim).
Ketiga,
berpuasa selama sembilan hari, terutama hari Arafah. "Bahwa Rasulullah SAW
biasa berpuasa sembilan hari bulan Dzulhijjjah, hari 'Asyura serta tiga hari
dalam setiap bulan." (HR Ahmad dan Nasa'I dari Hafshah RA). Imam Nawawi
menjelaskan bahwa puasa pada hari-hari tersebut sangat dianjurkan. Khususnya
pada tanggal sembilan (yakni Hari Arafah) bagi yang tidak berada di Arafah.
"Berpuasa pada hari 'Arafah dapat menghapuskan dosa di tahun yang lalu dan
setelahnya." (HR Muslim).
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ
لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma
ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku
berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT.”
Keempat, bertakbir dan
berzikir. "Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah
ditentukan."(QS Al-Hajj: 28).
Kelima,
berkurban pada Hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijah) atau pada hari-hari Tasyrik
(11, 12 dan 13 Dzulhijah). "Barang siapa yang memiliki kemampuan, namun
tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami."
(Shahih At-Targhiib).
Keenam,
memperbanyak amal saleh, seperti sedekah, membaca Alquran, birrul waalidain
(berbuat baik kepada orang tua), silaturahim, memenuhi kebutuhan kaum Muslimin,
menghibur orang yang tertimpa musibah, dan sebagainya.
Ketujuh,
bertaubat dari dosa dan maksiat serta menjauhi larangan Allah.
"Sesungguhnya Allah cemburu, orang mukmin pun cemburu, dan kecemburuan
Allah adalah apabila seorang mukmin mengerjakan larangan-Nya." (HR Muslim).
Kedelapan, melaksanakan shalat Idul Adha.
Adapun niat sholat Idul Adha
أُصَلِّيْ
رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) للهِ
تَعَــــــــالَى
Ushallî
rak‘ataini sunnata-li ‘îdil adl-hâ (ma’mûman/imâman) lillâhi ta‘âlâ
Artinya:
“Aku niat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha (sebagai makmum/imam) karena
Allah Ta‘âlâ.”

Thank you ust 👍👍👍
ReplyDelete