Jangan sakiti aku lagi
Jangan sakiti aku
lagi
Cerpen By : M. Wasil
Kicauan burung mulai mengusik masyarakat Batu harapan, Sebagian dari mereka ada yang
berprofesi sebagai pedagang, petani ada juga sebagai ibu rumah tangga. Fatimah
seorang anak yang rajin masih duduk di bangku SMP dia hidup dengan kemandiriannya,
setiap hari ia mengerjakan semuanya sendiri, masyarakat mengenalnya dengan
pribadi yang rajin, santun dan mandiri.
Maka tidak jarang kalau dia
dijadikan contoh oleh masyarakat setempat, banyak masyarakat yang mengaguminya.
Dipagi itu dia hendak berangkat ke sekolah, seperti biasa sebelum berangkat
kesekolah dia membantu ibunya, mengerjakan pekerjaan rumah, dari mencuci
pakaian, mencuci piring sampai mengepel, setelah semuanya selesai ia berangkat
sekolah. “mah, saya mau berangkat sekolah”, sembari fatimah menghampiri ibunya
untuk pamitan, rupanya ibunya masih asyik main Hp, sehingga tidak mendengarnya,
“mah saya berangkat sekolah”, sambil menjulurkan tangannya. dengan nada santai
mamanya menjawab,” O...iya hati-hati”, rupanya mamanya Fatimah lebih
mementingkan Hpnya dari pada anaknya.
“Hallo,,, fatimah”, Si Fitri
meyapanya yang tidak lain temannya fatimah. Disekolah dia juga bergaul baik
dengan teman-temannya, selain dia dikenal dengan periang dia juga tidak pilah
pilih teman, sehingga tidak heran jika ia banyak temannya. “gimana PR-mu sudah
dikerjakan?”, Fatimah menanyakan si fitri, sudah menjadi kebiasaan si fitri
kalau dia selalu lupa kalau ada PR, dengan nada terkejut fitri menjawab “Aduh,,,
aku lupa, gimana kamu sudah?”, fatimah senyum-senyum
seolah-olah dia sudah tau watak temannya itu, dengan nada memohon “pinjam
dong,,,”, fitri sambil memegang tangannya temannya itu, tanpa menunggu lama
fatimah mengeluarkan bukunya, “Ini terakhir aku meminjamkan buku padamu, kamu
harus mengerjakannya sendiri”, sambil menasehati temannya itu, fatimah menuju
kelas.
Bel berbunyi semua siswa masuk
kelas, Ustadz samsul memasuki kelas 9, dengan santun ia memanggil salam
“Assalamu alaikum wr wb anak-anak”, serentak siswa penuh semangat menjawabnya,
“Waalaikum salam wr wb”, materi kali ini Ustadz akan membahas tentang
pentingnya berbakti kepada kedua orang tua”, Fatimah dan teman-temannya
menyimak dengan seksama, ternyata ustadz yang penuh karismatik itu menyedot
perhatian semua siswa, sehingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan jam 10.00
WIB bel istirahatpun tiba, sebagian siswa ada yang ke kantin ada pula yang
menghabiskan waktu di perpustakaan, sesekali Fatimah medesah seolah-olah ia
menahan sakit, “kamu kenapa, kamu sakit?” dengan penuh cemas fitri menanyakan
temanya itu, “tidak, saya cuman sedikit pusing”, fatimah menjawab dengan
santai, “ayo kita ke UKS”, fitri mengajak temannya itu, walapun Fitri terbilang
anak yang sedikit pemalas tapi ia teman yang penuh perhatian. Fatimah tidak mau
dia langsung ke kelas, setelah palajaran selesai fatimah pulang, saat berjalan
menuju rumahnya dia berjalan dengan terseot-seot, seakan dia menahan sakit yang
ia derita.
Setibanya di rumah fatimah
ingin merebakan badannya, tapi dari balik pintu ada yang memanggilnya,
“Fatimah,,, jangan lupa habis ganti baju cuci piring ya”, ternyata mama Fatimah menyuruhnnya, dengan
kepatuhannya ia tidak berfikir panjang, badan yang sakit kini ia bawa
mengerjakan perintah ibunya, dengan sedikit terseot-seot badannya mulai lemas, dan tidak lama ia terjatuh, “kamu
kenapa, ayo kerjakan jangan banyak drama”, mamanya tidak menyadari bahwa
anaknya itu pingsan beneran, “fatimah, kamu kenapa”, rasa kecemasan muncul
dihati mamanya, tidak lama fatimah dibawa kerumah sakit, dia dirawat di IGD
(instalasi gawat darurat).
Tidak lama Seseorang keluar dari
ruangan itu, “maaf apakah anda ibu pasien didalam?”, dokter menanyakan orang
yang berdiri di depan pintu ruangan IGD, “Iya dok, saya ibunya” dengan meneteskan air mata ibunya Fatimah berusaha
menjawabnya, “Silahkan bu ke ruangan saya”, dengan berjalan santai dokter
menuju ruangannya, “Maaf dok, sebenanrnya anak saya sakit apa?”, dengan penuh
kecemasan ibu fatimah menanyakan keadaan anaknya yang sedang berbaring di
ruangan IGD, “Apa selama ini anaknya ibu tidak pernah mengadu sering sakit
kepala ?, dokter menanyakan gejala-gejalanya kepada ibunya fatimah, “Tidak dok,
dia tidak pernah mengadu kesakitan
selama ini dia baik-baik saja, “Maaf bu sebelumnya ini harus saya katakan apa
adanya, anaknya ibu mengidap panyakit kangker otak stadium akhir”, dokter
menjelaskan dengan penuh prihatin, seketika mamanya Fatimah tidak bisa berkata
apa-apa, seolah-olah apa yang dia dengar tadi tidak nyata, tapi apa daya memang
itu apa adanya.
“Nak maafkan ibu, ibu tidak tau
kalau kamu sakit separah ini”, dengan nada penuh penyesalan mamanya minta maaf
sembari memegangi tangan anaknya itu yang sedang berbaring kaku, ternyata
Fatimah menyembunyikan penyakit yang ia derita selama ini, dia tidak mau kalau
mamanya sedih akan penyakitnya itu, walaupun mamamnya sering menyuruhnya ini itu
tapi ternyata Fatimah sangat mencintai keluarganya. Selama seminggu ia dirawat
dirumah sakit akhirnya ia menghembuskan nafas terahirnya, semua teman-temanya
tidak menyangka Fatimah secepat ini pulang ke pangkuan Ilahi.
Semenjak itu mamanya fatimah
murung bagaikan hidup tidak ada artinya lagi, anak yang ia suruh-suruh selama
ini kini tiada meninggalkannya, ia sadar bahwa selama ini dia salah, semua
tanggung jawab seorang ibu dia limpahkan kepada anaknya itu, sesekali dia
meneteskan air mata dikala mengingat anak yang penuh berbakti kepada orang tuanya
itu. semuanya sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur, dia tidak akan hidup
kembali, tidak hanya mamanya Fatimah yang
merasa kehilangan tapi seluruh temannya juga merasakan hal yang sama,
lebih-lebih si Fitri teman dekat Fatimah, semenjak Fatimah tiada ia terlihat
murung sekali.
Hargailah siapapun dia, setiap
manusia pasti mempunyai perasaan yang sama, perasaan ingin diperhatikan, buatlah
orang disekitar kita nyaman dengan kita, jangan pernah menyakitinya, belajarlah
mengalah, karena menjaga hubungan antar sesama adalah tugas kita sebagai
khalifah dimuka bumi ini, yang mudah menghormati yang tua dan yang tua menyayangi
yang muda. Anak adalah titipan ilahi hiasi anak kita dengan ilmu, didiklah dia
karena dia kelak yang akan menyelamatkan kita dari panasnya api neraka.

0 Response to "Jangan sakiti aku lagi"
Post a Comment