-->

Harapan yang sirna


Harapan yang sirna
Kebahagiaan yang selama ini saya tanam dengan
Segenap rindu dihati ini, kini hanyalah fatamorgana belaka


Cerpen By: M. Wasil
Terpaan angin yang mengusik dua insan yang sedang bercerita, suasana begitu indah dirangkai dengan cerita masa lalu. Rendy dan Lisa dua insan yang ingin menghadirkan masa lalunya yang penuh dengan kebahagiaan. “dulu saya pernah dekat dengan seseorang saat masih duduk di bangku SMP “, Lisa memulai ceritanya, dengan penuh tanda tanya Rendy mulai bertanya “,O....iya saya kira kamu belum pernah pacaran”. Lisa dikenal sebagai cewek yang pendiam dan juga jarang bergaul dengan orang lain. “Sebenarnya bukan pacaran tapi hanya dekat saja, semenjak kami sama-sama SMA kami tidak  pernah bertemu lagi, sekian lama saya dan dia  tidak bertemu, kini dia datang lagi”, Lisa mulai serius bercerita tentang masa lalunya. “Terus apa kamu dekat lagi dengan dia?”. Rendy bertanya dengan sedikit memastikan “sejak pertemuan bulan lalu saya sering jalan bareng sama dia, seolah-olah saya kembali ke masa lalu dimana masa-masa itu terindah bagiku, saya enak banget kalau jalan bersama dia, selain orangnya ganteng dia juga lucu, kalau lagi cerita sama dia pengenya ketawa-ketawa terus, serumit apapun masalahnya kalau lagi bersamanya masalah hilang seketika”. Lisa menceritakan tentang sosok yang dia kagumi sesekali Lisa terlihat senyum-senyum seolah-olah masa lalunya menghampirinya, masa lalu yang penuh kebahagiaan.
Suasana mulai hening dua insan mulai menatap jauh, sesekali mereka berdua mengalihkan pandanganya, tidak jauh dari mereka ada sekumpulan anak yang lagi asyik dengan aktivitasnya. “terus kamu mau serius  sama dia?, Rendy berusaha mencairkan suasana yang semula hening kini kembali riuh dengan cerita yang penuh dengan makna dan kebahagiaan. “saya juga bingung sebenarnya dulu kita sama-sama punya perasaan suka, saya tau hal itu karena dia sendiri mencurhatkan semua isi hatinya kepadaku lewat whatshap, memang sejak dulu dia suka sama aku”, Lisa menundukkan kepalanya seolah-olah ada keganjalan dihatinya. “ kalau kalian sama-sama suka dan saling mencintai kenapa tidak diseriusin saja, kalian bisa tunangan atau kalau perlu menikah”, rendy mencoba meyakinkan Lisa.
“Sekarang masalahnya lain lagi Ren, orang yang saya kagumi dan saya jadikan harapan terakhir, kini mecampakkan ku, bukan hanya itu semua akses kepadanya whatshap, facebook, instagram di blokir, yang lebih menyakitkan lagi dia menitipkan undangan pernikahannya kepada temannya, kenapa tidak memberikan langsung kepadaku“, Lisa nampak sedih, matanya berkaca-kaca seolah- olah kenangan manis yang ia simpan selama ini, kenangan yang ia anggap kenangan terindah, kenangan yang selalu membuatnya tersenyum ketika mengingatnya berubah menjadi kenangan yang belum pernah terfikirkan sebelumnya, hatinya hancur sehancur-hancurnya, harapan yang selalu ia panjatkan setiap selesai sholat, kini tinggalah kenangan yang merengut kebahagiaannya.
Dia mencoba menghelakan nafas pelan-pelan seakan-akan seluruh tubuhnya rapuh bagaikan tanpa tulang berdiripun ia tidak sanggup, rendy mencoba menghibur temannya itu “sudahlah tidak usah diingat lagi, mungkin itu rencana Allah yang terbaik untukmu, walaupun menyakitkan tapi saya yakin kamu akan mendapatkan gantinya kelak yang mungkin lebih baik lagi. Mendengar ucapan temannya itu Lisa mulai sedikit lega dia menyadari bahwa temannya ingin menghiburnya. Namun apa dikata luka sudah membakas yang mungkin tidak mudah menghapusnya.
Jam menunjukkan 17.00 WIB dua insan yang sedang di landa masa lalunya membuat mereka lupa akan waktu, Lisa mulai beranjak dari timpatnya “Ayo pulang sudah sore neh”, lisa mengajak temannya, sesampai dirumahnya Lisa merebakan badanya tidak terasa jam alarm menunjukkan jam 02.00 “Astaqfirullah saya kan belum  sholat isya’”, Lisa kaget melihat jam sudah menunjukkan dini hari dia bergegas mengambil wudhu’ dan langsung sholat isya’ kemudian sholat tahajjud “dengan deraian air mata ia memanjatkan do’a kepada yang pencipta “Ya Allah, milikmulah segala puji, Engkaulah penegak langit dan bumi serta apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, milik-Mu lah kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah penguasa langit dan bumi , milik-Mu lah segala puji, Engkaulah yang benar dan janjimu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataanmu benar, surga-Mu itu benar ada, neraka itu benar ada, para nabi itu benar, Nabi Muhammad Saw itu benar, dan kiamat itu benar ada. Ya Allah hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal, hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dengan-mu lah aku menghadapi musuh, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Maka ampunilah aku atas segala dosa yang telah aku lakukan dan yang mungkin akan aku lakukan, dosa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Engkaulah yang Maha terdahulu dan Engkaulah yang Maha terakhir. Tiada Tuhan selain Engkau dan tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah”. Lisa terbuai dalam do’a air matanya yang membasahi mukenanya kini tidak lagi ia hiraukan, suaranya yang terbata-bata kalimat demi kalimat ia rangkai sebagai bentuk pengaduhannya kepada sang pencipta, sakit yang belum pernah ia alami kini berengut seluruh kebahagiaanya tiada hari baginya yang lebih menyedihkan selain hari itu, badannya mulai lemes dia tersunggur dalam sujudnya.
Betapa kagetnya ketika ia melihat sosok yang tidak asing ada didepannya sosok yang selama ini jadi penutan, mulutnya terkunci seribu bahasa, ia berusaha sekuat mungkin ingin menyapanya tapi badannya masih lemes.

Tunggu episode berikutnya >>>

0 Response to "Harapan yang sirna"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel