Kesederhanaan dalam menata hidup ini
يَا اِبْنُ
اَدَمَ اِنَّكَ إِنْ تَبْذُلِ الْفَصْلَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ تُمْسِكْهُ شَرٌّ لَكَ,
وَلَا تُلَامُ عَلَى كَفَافٍ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ (رواه الترمذي)
Artinya
: Hai anak adam (manusia), jika kamu
menshadaqahkan apa yang melebihi kebutuhanmu, itu lebih baik bagimu, dan jika
kamu menahannya, itu buruk bagimu. Kamu tidak akan hina karena hidup sederhana.
Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Tirmizi)
Kebanyakan dari masyarakat menganggap bahwa hidup
sederhana adalah hidup pas-pasan, hidup yang hanya menerima apa adanya, serta
cenderung takut dihinakan oleh orang lain. Sebenarnya hidup sederhana adalah
hidup yang tidak mengikuti hawa nafsu kita, dalam hidup sederhana kita akan
selalu bisa mensyukuri nikmat dari allah. Maka sudah sewajarnya jika kita
mempunyai harta lebih lebih baik di shadaqahkan saja, dari pada menahan jadi
mala petaka.
كُلْ وَاشْرَبْ
وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِى غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيْلَةٍ (رواه ابو داود)
Artinya
: makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bershadaqahlah tanpa berlebihan dan
sikap sombong (HR. Abu Daud).
Tidak sedikit orang kaya di negeri kita ini hidup dengan kesederhanaannya,
tidak menunjukkan atau pamer akan kekayaannya. Orang yang hidup berlebihan
cenderung hidup sombong.
عَنْ اَبِي
اُمَامَةَ قَالَ : ذَكَرَ اَصْحَابُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِنْدَهُ
الدُّنْيَا, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اَلَا تَسْمَعُونَ ؟
اَلَا تَسْمَعُونَ ؟ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْاِيْمَانِ, إِنَّ الْبَذَاذَةَ
مِنَ الْاِيْمَانِ, إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْاِيْمَانِ (رواه ابوا داود)
Artinya
: Dari abu umamah berkata, pada suatu hari para sahabat nabi SAW,
menyebut-nyebut dunia disisi beliau, lalu beliau bersabda. “ Tidaklah kalian
mendengar? Tidaklah kalian mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan dalam
berpakaian itu bagian dari iman, Sesungguhnya kesederhanaan dalam berpakaian
itu bagian dari iman, Sesungguhnya kesederhanaan dalam berpakaian itu bagian
dari iman (HR. Abu Daud).
Begitu pentingnya hidup sederhana sehingga nabi mengulang
sampai tiga kali, hidup yang berfoya-foya akan membuat seseorang lupa
segalanya, dikala seseorang mempunyai semuanya sibuk dengan kehidupannya yang
di penuhi dengan kegengsian maka akan membuat seseorang lupa akan harkat
martabatnya, menganggap harga diri seseorang bisa dibeli dengan uang, karena
menurut mereka uang adalah segala-galanya.
Nabi kita juga mencontohkan kesederhanan dalam
kehidupannya sehari-hari, didekat masjid Nabawi Madinah, ada suatu bangunan
yang cukup sederhana, Itulah tempat tinggal Rasul Agung Muhammad SAW. Rumah itu
sangat kecil dengan hamparan tikar usang dan nyaris tanpa perabot.
Zaid bin Tsabit bertutur, “Anas bin Malik pelayan
Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat
dari kayu yang keras dan di patri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku,
‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah
Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu.’” (HR Tirmidzi).
Soal tempat tidur Rasulullah SAW, Ummul Mu’minin, Aisyah
RA menggambarkan bahwa suaminya itu tidak tidur di tempat yang mewah.
“Sesungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah SAW terdiri atas kulit binatang,
sedang isinya adalah sabut korma.” (HR At-Tirmidzi)
Hafshah saat ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur
Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas
itulah Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu
malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat
lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.”
Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW
mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku
menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat
empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kepada
asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam
hari.” (HR At-Tirmidzi).
Cerita tentang tempat tidur Rasulullah SAW juga pernah
menyembabkan Umar bin Khatab menangis. Padahal, Umar bin Khatab terkenal
sebagai pemuda yang gagah perkasa sehingga disegani banyak orang baik dari
kalangan lawan maupun kawan. Bahkan
konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau setan pun segan dan takut
dengan Umar. Kalau Umar sedang lewat di suatu jalan, setan pun menghindar dari
jalan yang dilaluinya dan memilih lewat
jalan yang lain.
Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas
keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu,
fenomena Umar menangis menjadi peristiwa yang sangat mengherankan. Mengapa
"Singa Padang Pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin
menemui Rasulullah SAW. Umar mendapati Rasulullah sedang berbaring di atas
tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau
hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras. “Aku ucapkan salam kepadanya dan
duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab. Rasulullah
yang mulia pun sampai bertanya kepada Umar, "Mengapa Engkau menangis,
wahai Umar?. “Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar ini telah
menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan
kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan
Kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera".
Lalu Nabi SAW berkata, "Mereka telah menyegerakan
kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita
adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan
hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia
berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya,"
ujar Rasul SAW
Baginda Nabi Muhammad SAW. hidup dengan sangat zuhud.
Seperti dituturkan oleh Aisyah, betapa Rasulullah hanya mempunyai dua baju,
tidur di atas daun pelepah kurma, perutnya selalu lapar, bahkan pernah diganjal
dengan batu, dan sangat sedikit tidur.
Rasulullah juga mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya,
menambal baju sendiri, dan memerah kambingnya sendiri. Seperti itulah pekerjaan
keseharian Rasululah, selalu memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri,
tanpa membebani keluarga atau orang lain. Jika beliau mau tentulah sangat mudah
menggantikan pekerjaan itu kepada orang lain, karena beliau adalah kepala rumah
tangga sekaligus kepala negeri Arab pada saat itu.
Bandingkan dengan umat sekarang. Bajunya paling sedikit
dua lemari. Dengan berbagai model. Jasnya bertumpuk-tumpuk. Sepatunya
berderet-deret semuanya branded. Tidurnya diatas kasur yang import harganya
puluhan juta. Bagaimana bisa melaksanakan shalat malam?
Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara,
hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan
yang sesungguhnya. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita, perlu kita akui
menahan nafsu itu tidak mudah, ketika kita bisa mengendalikannya maka sudah
pasti kita akan terhidar dari tipu daya duniawi.

0 Response to "Kesederhanaan dalam menata hidup ini"
Post a Comment