Belajar rendah hati dari Rasulullah
Rendah hati adalah sikap merendahkan diri dihadapan Allah
dan serta berperilaku sopan santun terhadap sesama. Orang yang mempunyai sikap
rendah hati dijauhkan dari sikap sombong walapun dirinya lebih mampu dari
segala bidang. Sikap rendah hati disebut juga sikap tawadhu’, orang yang me
punyai sikap tawadhu’ dia cederung rajin beribadah kepada Allah serta menyadari
bahwa segala sesuatu di dunia ini bersumber dari Allah, dengan demikian orang
yang memiliki sifat tawadhu’ akan selalu menjaga hubungannya dengan orang lain.
اِنَّ اللهَ
اَوْحَى اِلَيَّ اَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخُرَ اَحَدٌ عَلَى اَحَدٍ وَلَا
يَبْغَى اَحَدٌ عَلَى اَحَدٍ
(رواه مسلم)
Artinya
: “Sesungguhnya Allah SWT, telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’,
sehingga tak seorangpun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang
tiada menganiaya kepada yang lainnya. (HR. Muslim)
Orang tawadhu’ sudah pasti mempunyai ilmu, tapi tidak
semua orang yang berilmu mempunyai sikap bertawadhu’. Begitu banyak orang yang
pintar dinegeri ini baik yang bertitle dari dalam negeri maupun dari luar
negeri, sehingga ketinggian pendidikan tidak menjamin seseorang bisa
berperilaku tawadhu’.
مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ اِلَّا عِزًّا
وَمَا تَوَاضَعَ اَحَدٌ للهِ اِلَّا رَفَعَهُ اللهُ (رواه مسلم)
Tiada
berkurang harta karena bershadaqah, dan Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan,
dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali allah pasti mengangkat
(derajatnya) (HR. Muslim).
Sifat tawadhu’ sudah dicontohka oleh nabi kita Muhammad
SAW, kerendahan hati Rasulullah SAW tercermin dalam banyak hal, antara lain
adalah: Pertama Ketika pada suatu hari beliau tidak besedia barang
belanjaannya di pasar dibawakan pulang oleh Abu Hurairah, Kedua. Ketika
beliau mempersilakan para sabahat berjalan di depan mendahului beliau, dan Ketiga.
Ketika beliau mendahului beruluk salam ketika bertemu dengan para sahabat.
Tidak berkenannya Rasulullah SAW terhadap Abu Hurairah
membawakan barang-barang beliau menunjukkan bahwa beliau bukanlah sosok yang
sangat suka dimuliakan orang lain, atau dalam istilah sekarang “gila hormat”.
Beliau menolak ketika akan diperlakukan istimewa yang berbeda dari umumnya
orang, padahal beliau adalah seorang nabi sekaligus rasul yang paling mulia
diantara semua nabi dan rasul di sisi Allah. Penolakan itu menunjukkan bukti
bahwa beliau memang orang yang sangat rendah hati sehingga tidak merasa
martabatnya turun hanya karena membawa barang-barang sendiri, dan bukannya
dibawakan orang lain.
Kita tahu para sahabat berjalan mendahului beliau
sehingga mereka membelakangi. Rasulullah SAW tidak mencap kesediaan mereka
mendahuli beliau sebagai su’ul adab.
Ketika para sahabat berjalan di depan beliau, kesan yang tampak kemudian
Rasulullah SAW seperti tidak lebih penting atau terhornat dari pada para
sahabat. Di sinilah kerendahan hati beliau yang sulit dibantah. Tetapi dari
sisi lain dalam konteks keamanan, ada hikmah dibalik perisitiwa itu, yakni
sebagai seseorang pemimpim beliau sedang memberikan contoh bahwa seorang
pemimpin tidak selalu harus berada di depan terutama ketika ancaman musuh
berasal dari belakang. Ancaman atau bahaya yang datangnya dari arah depan tentu
dapat diintisipasi sendiri oleh para sahabat karena mata mereka (dan juga mata
kita tentunya) berada di depan.
Sedangkan kemungkinan adanya ancaman kepada Rasululullah
SAW yang datangnya dari belakang, beliau memasrahkan hal itu kepada Allah
semata dengan meyakini di belakang beliau ada malaikat yang sudah pasti sangat
halus sehingga tidak tampak.
Kisah ini menunjukkan bahwa Rasululllah SAW lebih suka
mendahului memuliakan orang lain. Padahal aturan secara umum sudah jelas
sebagimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa:
1. Yang kecil memberi salam kepada yang besar.
2. Yang berjalan kepada yang duduk.
3. Yang sedikit kepada yang banyak.
4. Yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki.
Tetapi Rasulullah SAW pada kenyataannya lebih suka
mendahului memanggil salam dari pada didahului. Padahal sewajarnya apabila
Rasulullah didahului dalam memanggil salam dari pada mendahului karena posisi
beliau sebagai pimpinan umat yang tentu lebih tinggi dari pada umatnya. Tetapi
Rasulullah tentu saja tidak salah dalam hal ini karena pada kesempatan lain
Rasulullah SAW bersabda bahwa mendahului memanggil salam itu lebih baik dari
pada didahului sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Dalam hadits lain
yang diriwayatkan Imam Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda bahwa mendahului
beruluk salam dapat menghilangkan takabur.
Dari kisah diatas akankah kita berperilaku tidak tawadhu’,
akankah tetap bercongkak diri jangan biarkan sifat tercela terus menggerogoti
hati kita, senantiasa kita mohon ampunan kepada Allah supaya kita terhindar
dari sifat yang tercela hanya denga pertolonganlah kita terhindar dari sifat
yang tidak kita inginkan.

0 Response to "Belajar rendah hati dari Rasulullah"
Post a Comment