Sepucuk surat dari ibu
Kasih sayang seorang ibu tak tergantikan oleh apapun dan
oleh siapapun, seorang ibu mempunyai naluri yang tajam terhadap anaknya, karena
anak merupakan bagian dari dirinya. Sumarni seorang ibu yang sangat sayang
terhadap anaknya, sehingga dia rela berkorban apapun demi anaknya, anaknya yang
masih duduk dibangku SD tidak mengakui ibunya yang telah melahirkannya, ibu
yang telah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya.
Suatu ketika Dodi yang merupakan anak dari Sumarni,
seperti biasa melakukan aktivitas sehari-harinya di sekolah dia, bergaul dengan teman-temannya bercanda dan
bergurau, tapi ada suatu hal yang membuat dia tidak betah disekolah karena
disekolah itu ada ibunya yang kebetulan jualan di sekolah yang sama. Dia tidak
mengakui ibunya lantaran ibunya cacat dia hanya mempunyai satu mata. Suatu ketika
Dodi ketahuan temannya berbiacara dengan wanita yang jualan di sekolah itu layaknya
anak dan ibu, “Dod, itu ibu kamu?, tanya temannya Dodi, “Tidak dia bukan ibuku,”
dengan tegas Dodi tidak mengakui ibunya, “Masak itu bukan ibu kamu, kalau dia
bukan ibu kamu kenapa dia selalu meperhatikanmu, aku juga lihat tadi kamu
ngobrol sama dia”. Dodi semakin kesal dengan temannya itu.
Sesampainya dirumah Dodi memarahi ibunya
habis- habisan sambil membantingkan tasnya, “Kenapa sih ibu harus jualan di
sekolah, saya malu sama teman-teman punya ibu cacat, apa ibu sengaja mempermalukan
saya didepan teman-teman saya”, Dodi melontarkan kata-kata kasarnya kepada
ibunya, Dodi melanjutkan kata-katanya itu, “Kenapa saya harus lahir dari
seorang ibu cacat”, ibunya cuman bisa diam, dia cuman bisa menagis dalam
hatinya seraya berkata, “Nak,,,,,, kamu sabar ya,,,, tidak usah didengar
teman-temanmu,” dengan nada tinggi Dodi mengancam ibunya suatu saat dia akan
kabur dari rumahnya, dengan hati yang penuh kecemasan ibunya takut ditinggal
anak semata wayangnya itu.
Sejak itu Dodi belajar keras tiada hari tanpa
belajar, didalam benaknya hanya ada bahwa suatu saat dia akan meninggalkan ibunya.
Hari berganti hari tahun berganti tahun kini Dodi sudah dewasa dia sudah
mempunyai pekerjaan, demi jauh dari ibunya Dodi memilih bekerja diluar negeri. Ibu
yang melahirkannya dan juga membesarkannya kini ditinggal sebatang kara, dia
selalu menanyakan keberadaan Dodi kepada teman-temannya tapi usahanya tidak
membuahkan hasil, tidak terlitas dibenak wanita tua itu kecuali hanya ingin
bertemu dengan anaknya.
Dua puluh tahun terlewati Dodi belum pulang
kerumah, ibunya yang semakin tua hanya bisa barharap bisa berjumpa lagi dengan
anaknya, tidak lama kemudian ibunya memperoleh kabar keberadaan anaknya itu,
kabar yang membuat dia bahagia tanpa berfikir panjang, Ibunya pergi keluar
negeri untuk berjumpa dengan anaknya. Betapa
terkejutnya sang ibu melihat anaknya sudah mempunyai keluarga. “ayah ada seorang
nenek-nenek diluar,” suara kecil menghampiri Dodi yang tidak lain adalah
anaknya, Dodi segera keluar sampai dipintu betapa marahnya Dodi bahwa yang
datang adalah ibunya sendiri, dengan nada keras Dodi memarahi ibunya, “Ngapain
kamu kesisni, saya sudah bahagia dengan keluarga baruku ini, jangan sekali-kali
kau menghancurkannya”, ternyata Dodi sekarang masih seperti dulu, tidak
mengakui ibunya sendiri, “Nak, kenapa kamu tidak pulang, saya kangen sama kamu”,
dengan suara lirih dan memohon ibunya berharap Dodi mendengarkannya. Namun apa
dikata hatinya Dodi masih seperti dulu, “Sana keluar, ayo keluar, ayo,,,”
dengan nada keras seraya menyeret ibunya keluar dari rumah. Ibunya hanya bisa
menangis sepanjang jalan menuju pulang, ibunya hanya bisa berharap suatu saat
anaknya mau pulang dan mengakui ibunya lagi.
Ibu tetaplah ibu kasih sayangnya tidak pernah
berkurang walau secuilpun. Sekolah SD tempat Dodi belajar mengadakan reuni,
Dodi hadir dalam acara tersebut, Dia tidak tau bahwa ibunya masih jualan
disekolah itu, Dodi sangat kesel karena teman-teman masih ingat atas kejadian
yang silam bahwa Dodi tidak mengakui ibunya sendiri, dengan tanpa basa basi Dodi
pulang lebih awal. Dua bulan kemudian Dodi mendapat kabar bahwa ibunya sedang
sakit, jangankan menjenguknya membalas
suratpun dia ogah melakukannya, hatinya seperti batu yang ada hanya rasa kesel
terhadap ibunya. Kabar kedua datang dari temannya bahwa ibunya sudah meninggal,
dia hanya bisa bergumam “Bodoh amat! syukurlah dia sudah mati, tidak ada lagi
yang mempermalukan aku”, hatinya terasa lega karena wanita yang dianggap batu
sandungan dalam hidupnya kini sudah tiada, wanita yang membuat dia malu kepada
semua temannya.
Pagi itu ada tukang pos kerumahnya Dodi
mengatarkan surat padanya, tanpa menunggu lama Dodi membaca surat itu, “Assalamu
alaikaum wr. Wb, Dodi anakku ibu sengaja tulis surat ini untukmu, ingin sekali
ibu menghabiskan waktu bersamamu, bersama anak dan istrimu karena ibu merasa
tidak lama lagi menghadap sang maha pencipta, ibu sayang kamu semoga kamu selalu
dalam lindungannya, ibu selalu mendoakanmu, mendoakan kesuksesan serta
kelancaran semua urusanmu, saya minta maaf apabila selama ini ibu selalu
membuatmu kesel, ibu tau pasti kamu malu mempunyai seorang ibu yang cacat yang
hanya mempunyai mata satu. Perlu kamu ketahui, kamu terlahir dengan mata satu,
ibu tidak mau kamu terlahir dengan cacat, ibu tidak mau kau melihat dunia ini sebelah,
ibu tidak mau kau tidak sama dengan anak-anak seperti biasanya, makanya ibu
relakan mendonorkan mata ibu padamu, agar kamu bisa melihat keindahan dunia ini
dengan utuh.
Dari Ibumu : Sumarni
Seketika Dodi meneskan air mata sungguh dia
tak sangka betapa besar pengorbanan ibunya, dia menangis sejadi-jadinya, ibunya
sudah meninggalkannya kini tinggallah penyesalan yang sangat dalam.

Semoga menjadi inspiratif sehingga bisa diambil manfaatnya.
ReplyDelete