Mawar Yang Berdarah
Cerpen By: M. Wasil
“Benarkah
mawar yang mengitu indah membuat semua orang yang melihatnya terpana akan
kehindahannya, menjadi mawar yang sangat menjijikan bahkan lebih menjijikan
daripada yang paling menjijikan didunia ini”
Mentari menyingsing dari ufuk timur yang akan menyelajahi
luasnya bumi, bertaburan sinar wajahnya, sehingga memberi keindahan bagi semua
kehidupan. Pagi yang indah nan anggun meneteskan air matanya diujung dedaunan
yang dapat menyejukkan hati, hati yang sekian lama beku, kini memancarkan
cahaya kebahagiaan.
Hari pertamapun dimulai dengan pertemuan yang tidak
direncanakan, entah apa yang membuat hati ini begitu senang sehingga lupa akan
kesedihan. Dari sebelah samping terdengar suara ”ini uangnya, tadi bak lina
menitipkan padaku katanya sih untuk kamu, kamu yang namanya Arif kan ...”,
seraya dia menyulurkan uang dengan tangan mulusnya. Tanpa disengaja ku tatap
wajahnya yang mempesona itu dibalik kerudung merahnya, hilang pikiranku
melayang diterpa sinar wajahnya yang merona itu.
“iya saya Arif, oh..... terima kasih” ku coba menjawab
walaupun dengan perkataan yang tertatih-tatih, tanpa terasa dia sudah sampai
dipersimpangan jalan. “Wah cantiknya orang tadi, begitu sempurnya” gumamku
dalam benak.
Hari demi hari ku lalui, di kampus tercinta ini sempat
menorehkan cerita yang indah yang dapat membenihkan suatu kerinduan mendalam.
Hari liburanpun tiba, kenangan yang sempat membekas dihati, sering kali
bertanya-tanya “ingin rasanya ku ulangin kejadian yang kemarin, walaupun hanya
sesaat, namun kenangan tetap tidak bisa dihapus begitu saja’.
Ditengah kerinduanku kepada seorang yang ku kagumi hp
berdering, setelah kulihat ternyata salah satu temanku menelpon. “ada apa sul
.....” sapaku yang penuh dengan basa basi, “iya neh, ada yang pengen minta nomernya kamu, gimana dikasih
gak” jawab samsul dengan begitu meyakinkan. “emangnya siapa yang mau minta
nomerku, kamu ingin mengejekku sul...?” gumamku padanya. “ ya ampun... masak
kamu tidak percaya ama aku, kalau diizinen ya akan ku kasih, biar dia ja yang
bicara denganmu, gimana dikasih” tanyanya melalui telpon. “ya udah kasih aja, tapi kalau kamu bohong saya
tidak mau berteman sama kamu lagi”, sapaku dengan nada mengancam. “ya udah
dulu, ku lagi da kerjaan” dengan rasa penasaran dibenakku dia mengahiri
telponnya. Hati yang penuh dengan penasaran menanti telpon tersebut, dan tidak
lama kemudian hpku berbunyi. “assalamu
alaikaum” suara merdu yang menyapa dalam telpon. “oh.... kamu toh embak ku kira
siapa, apa kamu yang minta nomerku ama samsul” ku coba menanyakannya dengan
suara yang tidak asing lagi ditelingaku. “iya dik... kenapa kamu tidak suka”,
sapa dia dengan sinis. “bukanya tidak suka tapi aku heran saja karena sejak
kemarin ku mencari nomernya kamu, gimana kabarnya bak...”, ku coba sok perhatian
sama bak lina. baik, gimana uangnya apa udah nyampe?, dia menanyakan uang yang
dititipka pada temannya kemarin, seketika itu wajahnya hadir dalam benakku,
memberikan harapan pada kerinduan yang masih membekas. “oh... ya dah nyampe’
makasih ya bak, o.... iya apa kamu punya nomernya dia”, tanyaku dengan
keraguan. “dia siapa, si nanda ya dik”, hatiku tertekun setengah mati mendengar
namanya disebut, walaupun belum pernah ku dengar, tapi nama itu bagai bersemayam
seribu tahun di hati ini. “oh... namanya nanda”, dengan rasa terkejut ku
mencoba meyakinkannya. “wah kalau itu aku minta izin sama orangnya, dik”, jawabnya
dengan perasaan curiga, “iya ku tunggu ya bak”, Sejak itu hatiku penuh dengan
kebahagian yang dibumbuhi dengan kebimbangan, tanpa terasa datang sms dihpku
“ne nomernya nanda, dik”, sms dari bak lina.
Kerinduan yang mencekap dihati ini akan segera
terobati, angan-angan malam yang selalu ku dendangkan bersama kesunyian malam
akan segara berahir. Dengan keyakinan dalam hati ku coba mengirimkan keresahan
melalui hp, “assalamu alaikum, apa benar
ne ukhti nanda”, pesan telah ku kirimkan padanya, tidak lama datang sebuah
pesan yang sangat mengejutkan hati, “walaikum salam, apa ne arif”, ternyata dia
sudah tau dari embak lina bahwa aku akan sms padanya. Ini kesekian kalinya hati
ini diterpa kesejukan yang tiada tara. “ia .... Gimana kabarnya”, ku coba basa
basi padanya, “baik, emangnya ada perlu apa sama aku”, ia menanyakan
keresahannya, “tidak ada perlu apa2, hanya pengen ngombrol saja sama kamu,
emangnya menganggu neh”, ku coba cari perhatian, “tidak ... tumben saja kamu pengen
ngomrol sama aku, oh.... iya katanya kamu lagi di pamekasan, emangnya lagi apa
disana....?”, tanyanya penuh dengan kesan, “oh.... kemarin tuh aku lagi da
rumahnya paman, kok tau”, ku coba sok akrap padanya, “iya katanya embak lina
bahwa kamu baru datang dari pamekasan, kamu tidak smsan am temen-temenmu yang
lain”, tanyanya dengan penuh penasaran “iya saya smsan juga sama teman2ku tp
tidak da yang sejenis kamu”, ku beri sedikit penjelasan agar dia mengerti apa
yang ku alami dengan perasaanku, “ya dah dulu ku lagi da kerjaan neh”, dia mengahiri
smsnya.
Entah apa yang aku alami waktu itu yang ada hanyalah
kesejukan hati yang begitu mendalam, mengerti ataukah tidak tentang perasanku
padanya yang saya renungkan hanyalah keriduan yang bersemayam dihati. Hari
liburan romadhan akan segera berakhir bukan sekian kalinya sms datang dihpku,
ada sebagian mengirimkan “mohon maaf lahir batin”, ada sebagian pula yang
mengirimkan “siapkanlah diri anda untuk kampus tercinta”, Yang ada dipikiranku
hanyalah dia dan mungkin hanya dia yang bisa membuyarkanku dari lamunan,
terbesit dihati ini tuk menelponnya, namun apa daya cinta tak dibalas-balas,
kerinduan yang dulu pernah ku alami kini datang mencekam lagi.
“Ya tuhan ....... apakah ini yang namanya cinta
ataukah sebuah keriduan saja” doa ku dalam sholat, selesai sholat ku coba
mengirimkan sms padanya. “assalamu alaikum, lagi apa neh”, dengan penuh harapan
akan balasan darinya. Sebuah sms muncul dhpku “waalaikum salam, lagi da dijalan
neh”, balasnya yang sempat mengetarkan hati. “emangnya lagi mau kamana
Nan.....”balasku padanya yang penuh dengan kesyahduan, “mau ke pantai lombang
kan sekarang hari idul adha, emangnya kamu tidak jalan-jalan”, sapanya penuh
kebagiaan, “tidak, emangnya kamu sama siapa pasti ma cowoknya ya... ?” ku coba
balas smsnya dengan rasa kecemburan yang begitu dalam, “iyalah, selain ama
teman-teman disini juga ada cowokku”, kejujurannya yang begitu tulus menyambar
hati ini dan ini kesekian kalinya hatiku hancur bagai diterpa petir, dengan
linangan air mata ku coba balas smsnya “wah, pasti enak nih sama orang yang
dicintai, ya udah dulu maaf udah menggangu, makasih atas waktunya, assalamu alaiku”,
kucoba tegarkan hati ini walau diterpa badai kekecewaan yang sangat, “waalaikum
salam, sama2”, balasnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa padanya.
Harapan yang membuahkan keriduan kini menjadi benalu
dihati ini entah apa yang terjadi padaku, mungkin ini sudah takdirku tidak bisa
memiliki orang yang ku cintai. Hari-hariku menjadi kelam sosok yang lama ku
dampakan kini hanya tinggal kenangan pahit, teringat akan kepribadiannya yang
sangat tahu aturan agama (pinter kitab kuning) membuat hati ini lebih
perih lagi akan tingkah lakunya, apakah ini yang namanya mawar yang berdarah,
suatu keindahan yang merona malah menjadi hal yang menjijikkan.

0 Response to "Mawar Yang Berdarah"
Post a Comment